Laporan Keuangan dan Sentimen Global Tekan IHSG Selama Sepekan

ANALISADUNIA.COM, Jakarta – Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam selama sepekan yang dipengaruhi hasil kinerja keuangan emiten dan sentimen global.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, Sabtu (27/10/2018), IHSG merosot 0,9 persen dari posisi 5.837 pada Jumat 19 Oktober 2018 menjadi 5.784 pada 26 Oktober 2018. Saham berkapitalisasi besar yang masuk indeks LQ45 melemah 0,72 persen selama sepekan. Investor asing jual saham mencapai USD 47 juta atau sekitar Rp 714,96 miliar (asumsi kurs Rp 15.212 per dolar AS).

Sementara itu, indeks obligasi naik 0,2 persen di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung tertekan ke posisi 15.217. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berada di posisi 8,7 persen. Aliran dana investor asing masuk ke pasar obligasi hingga Kamis mencapai USD 599 juta atau sekitar Rp 9,11 triliun.

Sejumlah sentimen dari eksternal dan internal yang bayangi pasar keuangan termasuk IHSG. Dari eksternal, pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah pimpinan Presiden AS Donald Trump tidak akan partisipasi bernegosiasi dengan China hingga buat keputusan besar.

Ancaman perang dagang berbulan-bulan dapat mengancam pertumbuhan ekonomi global. Ini ikuti permintaan Trump kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk selidiki China yang mencuri kekayaan intelektual bisnis AS.

Sementara itu, penjualan rumah AS melemah. Penjualan rumah yang sebelumnya dimiliki di AS merosot 3,4 persen pada September 2018 dari sebelumnya turun 0,2 persen pada Agustus. Penjualan rumah bagi keluarga baru di AS melemah 5,5 persen atau 553 ribu pada September 2018. Penurunan itu lebih rendah dari Agustus sekitar 3 persen.

Dari Asia, China membukukan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Ekonomi China tumbuh 6,5 persen hingga September 2018 dari periode sebelumnya 6,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi itu di bawah konsensus 6,6 persen. Angka itu terendah sejak kuartal I 2009 selama krisis keuangan global. Hal ini terjadi di tengah perang dagang AS dan China. Ditambah kekhawatiran pinjaman oleh pemerintah daerah.


Selanjutnya

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan 5,75 persen. Ini sesuai konsensus. Ini pertama kalinya sejak Juli, BI cenderung mengerem kenaikan suku bunga. Hal ini mengingat BI berupaya mempertahankan daya tarik pasar domestik, mengurangi defisit transaksi berjalan, menyediakan likuiditas dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

BI juga menegaskan domestic non deliverable forwarding (DNDF) akan dimulai pada 1 November 2018. Ini sebagai langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Nilai tukar rupiah cenderung stabil dengan menguat 0,07 persen terhadap dolar AS.

Lalu apa yang dicermati ke depan?

Ashmore menyoroti soal pemulihan terjadi pada kuartal III 2018 pengaruhi sejumlah komoditas tertentu? Di tengah musim laporan keuangan, pasar tampaknya tidak terlalu bersemangat dengan sentimen laporan keuangan.

Adanya pemulihan berkelanjutan terlihat di sektor peternakan unggas, perkebunan dan konsumsi. Sedangkan sektor telekomunikasi, properti dan semen mampu berbalik arah menguat.

Lalu bagaimana dengan IHSG jelang akhir tahun? Ashmore melihat sejumlah katalis yang dorong IHSG menguat dari aliran dana investor asing dan pengurangan sentimen negatif global.

“Namun kami melihat pemulihan IHSG akan didorong saham berkapitalisasi kecil yang berarti kenaikan IHSG terbatas,” seperti dikutip dari laporan Ashmore.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *